Minggu, 21 Oktober 2018

 40 Hadits Tentang Dosa
Macam-Macam Dosa Besar
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ، سَمِعَ وَهْبَ بْنَ جَرِيرٍ، وَعَبْدَ المَلِكِ بْنَ إِبْرَاهِيمَ، قَالاَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي [ص:172] بَكْرِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الكَبَائِرِ، قَالَ: «الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ، وَقَتْلُ النَّفْسِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ»
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Munir, telah mendengar Wahab bin Jarir, Abdul Malik bin Ibrahim, mereka berdua telah berkata: telah menceritakan kepada kami Syu’bah,  dari Ubaidillah bin Abi Bakar bin Anas, dari Anas Radiyallahu Anhu, telah berkata: telah ditanya Nabi Shalallhu Alaihi Wa Sallam tentang dosa-dosa besar, telah bersabda: Syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan membunuh jiwa, serta kesaksian palsu.”(HR. Bukhari)
Tahrij Hadis
1.      Shahih Bukhari no 2653 bab maa qiila fii syahadati Zuhri
2.      shahih Muslim no 88 Bayan alkabair wa akbaraha
3.      Sunan Tirmidzi no 3018 bab wa min Suratin an-nisa
Faedah Hadis
1.       Al-Raghib al-asfahani menyatakan bahwa kemusyrikan terdiri dari dua bentuk:
1)      Syirik besar yaitu, menetapkan adanya sekutu bagi Allah subhanahu Wa Ta’la inilah bentuk dosa yang paling besar
2)      Syirik kecil, yaitu memperhatikan selain Allah di samping memperhatikan-Nya juga dalam beberapa urusan. Itulah ria dan nifaq
2.      Adanya kemusyrikan dalam kategori musyrik kecil bukan karena beban dosanya yang rendah, tetapi kemusyrikan ini merupakan kemusyrikan yang sering terabaikan atau tidak terasa dalam perwujudannya
3.       Ada tiga ayat yang dikaitkat dengan tiga hal, tidak diterima salah satunya jika tidak dengan yang dikaitkannya. Salah satu ayatnya yaitu, firman Allah Ta’la, ‘barangsiapa bersyukur kepada Allah namun tidak bersyukur kepada kedua orangtua, tentu saja tidak diterima hal itu. Rasulullah shalallahu Alaihi Wa Sallam pun bersada yang artinya keridhaan Allah di dalam keridhan kedua orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua.
4.      Berbuat baik kepada kedua orang tua lebih diutamakan daripada jihad
5.       Berdosa kepada orang tua, adzabnya di segerakan di dunia.
6.      Membunuh jiwa dalam hadis di atas maksudnya membunuh seorang muslim dengan disengaja, bukan karena suatu hukuman teertentu seperti qisas ataupun rajam
7.      Seorang pembunuh telah menghilangkan rasa aman dilingkungannya, menebar rasa takut, dan memutuskan ikatan persaudaraan diantara manusia, khususnya di kalangan kaum muslim.
8.      Membunuh satu orang sama kedudukannya dengan membunuh semua orang, seperti dalam firman Allah Ta’ala QS. Al-Maidah:35. Karena membunuh seseorang berarti membunuh keturunannya
9.      Adzahabi berkata: “pemberi kesaksian palsu telah melakukan beberapa dosa besar:
1)      Kedustaan dan mengada-ngada.
2)      Ia mendzalimi orang yang menjadi lawannya hingga-karena persaksiaanya-hartanya dirampas, demikian pula kehormatannya, bahkan nyawanya
3)      Ia mendzalimi orang yand diberikan kesaksian dengan menjadikan harta haram menjadi miliknyamelalui kesaksiannya
4)      Ia menghalalkan apa yang telah diharamkan dan dijaga Allah dalam hal harta, darah, dan kehormatan
5973حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ» قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: «يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ»
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Said, dari ayahnya, dari Humaid bin Abdurrahman, dari Abdullah bin Amr, semoga Allah meridai keduanya telah berkata: telah bersabda Rasululah Shalallahu Aliahi Wa Sallam: “sesungguhnya termasuk dosa besar adalah seseorang melaknat kedua orang tuanya sendiri. Beliau ditanya; “kenapa hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “seseorang mencela (melaknat) ayah orang lain, kemudian orang tersebut membalas mencela ayah dan ibu orang yang pertama.” (HR. Bukhari)
Takhrij Hadis
1.      Shahih Bukhari no5973 bab laa Yasubbu rijalu waalidaihi
2.      Shahih Muslim no 90 bayan alkabair Waakbaraha
3.      Sunan Tirmdzi no 1902 Bab maa jaa fi uququl walidain
4.      Shahih Ibnu Hiban no 411 Bab Dzikruzzahri anissababi al-mar’u waalidaihi
Faedah Hadis
1.      Dosa besar, karena si anak menjadi penyebab keduaorangtuanya mendapatkan cacian dari orang lain, yaitu tatkala ia mencela ayah seseorang, maka orang itu membalas celaanya itu dengan mencela ayahnya
2.      Disebutkat dalam kaida syariyyah “sesungguhnya sarana itu mempunyai hukum-hukum yang sama dengan tujuan
3.      Adapun sarana yang dicantumkan pada hadis ini, maka ia adalah merupakan sarana yang diharamkan. Dan begitu pula maksud/tujuan dari hal itu, juga merupakan sesuatu yang diharamkan.
3342حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِيُّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنِي سَعِيدُ [ص:247] بْنُ أَبِي أَيُّوبَ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ الْقُرَشِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبَا بُرْدَةَ بْنَ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ، يَقُولُ: عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ قَالَ: «إِنَّ أَعْظَمَ الذُّنُوبِ عِنْدَ اللَّهِ أَنْ يَلْقَاهُ بِهَا عَبْدٌ بَعْدَ الْكَبَائِرِ الَّتِي نَهَى اللَّهُ عَنْهَا، أَنْ يَمُوتَ رَجُلٌ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ، لَا يَدَعُ لَهُ قَضَاءً»)
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud al-Mahri, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahab, telah menceritakan kepada ku Said bin Abi Ayub, bahwasanya ia telah mendengar Abu Abdullah al-Qurasyi berkata dari ayahnay, dari Rasulullah Shalallahu Alihi WA Sallam bahwa beliau bersabda: “sesungguhnya dosa terbesar di sisi Allah yang akan dibawa seorang hamba bertemu dengan-Nya setelah dosa-dosa besar yang telah Allah larang adalah seseorang meninngal dalam keadaan menanggung hutang yang tidak mampu ia lunasi.” (HR. Abu Daud)
Tahrij Hadis
1.      Sunan Abu Daud hadits no 3342 bab fi tasydidi fi dain
2.       
4877حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُسَافِرٍ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ، اسْتِطَالَةَ الْمَرْءِ فِي عِرْضِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ، وَمِنَ الكَبَائِرِ السَّبَّتَانِ بِالسَّبَّةِ»
Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Musafir, telah menceritakan kepada kami Amr bin Bai Slaamah, telah berkata: telah menceritakan kepada kamiZuhair, dari al-Ilai bin Abdirrahman, dari ayahnya, dari Abi Hurairah, telah berkata: telah bersabda Rasulullah Shalallahu Alaihi WA Sallam: “sesungguhnya termasuk dosa yang dari dosa-dosa besar adalah melanggar harga diri seorang muslim tanpa hak. Dan termasuk dosa besar adalah membalas celaan dengan celaan.”(HR. Abu Daud)
Dosa Yang Disepelekan
(292) وَحَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ، وَأَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، - قَالَ إِسْحَاقُ: أَخْبَرَنَا وَقَالَ الْآخَرَانِ - حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، قَالَ: سَمِعْتُ مُجَاهِدًا، يُحَدِّثُ عَنْ طَاوُسٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: مَرَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ: «أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ»، قَالَ فَدَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ ثُمَّ غَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا ثُمَّ قَالَ: «لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا»
Dan telah menceritakan kepada kami Abu Said al-Asyhaj, Abu Kuraib Muhammad bin al-‘Alai, dan Ishaq bin Ibrahim, Ishak telah berkata: telah mengkhabarkan kepada kami dan berkata al-Akharani-telah menceritakan Waki’, telah menceritakan kepada kami al-A’masy, telah berkata: aku mendengar Mujahid, diceritakan dai Thawus, dari Ibnu Abas telah berkata: Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam telah melewati dua kuburan maka beliau bersabda: “Keduanya disiksa bukan karena dosa besar, adapun salah satu diantara keduanya karena biasa mengadu domba kesana sini. Adapun yang lain maka adalah ia tidak menjaga ketika kencing).”(HR. Muslim)
Takhrij Hadis
1.      Shahih Bukhari hadis no 216, 218, 1361, 6052
2.      Shahih Muslim hadis no 111 Bab ad-aliulu ala najasati bauli wa wujubi
3.      Sunan Abu Daud Hadis no 20 bab al-Istibrai minal Bauli
4.      Sunan at-Tirmidzi hadis no 70 bab at-Tasydid fi Bauli
5.      Sunan Ibnu Majah hadis no 347 bab at-Tasydid fi Bauli
6.      Sunan an-Nasyai hadis no 31, 2068, 2069
Syarah Hadis
1.      Alhafidzh Ibnu hajar menjelaskan Namimah adalah membeberkan sesuatu yang yang tidak suka untuk dibeberkan. Baik yang tidak suka itu pihak yang dibicarakan maupun pihak yang menerima berita. Atupun pihak lainnya
2.      Pelaku Namimah termasuk dalam golongan hamba Allah yang paling buruk kelakuaanya sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam yang artinya “hamba Allah yang paling buruk kelakuannya adalah para penebar fitnah (tukang) pengadu domba
3.      Air kencing manusia termasuk najis, Orang yang tidak menjaga kebersihan dirinya, badan dan pakaiaannya di saat kencing maka shalatnya tidak diterima
4.      Hadis diatas juga memberikan faedah agar mentupi diri ketika buang air kencing, baik dengan masuk kamar kecil atau jika di tempat terbuka dengan menjauh dari pandangan orang
5.      Maksud sabda Nabi wamaa Yuadzibani fi kabiirin (keduanya disisksa bukan Karena dosa besar) adalah bahwa hal itu bukan besar ketika meningalkannya atau bukan merupakan dosa besar dari sangkaan keduanya. Oleh Karena itu dijelaskan dalam riwayat lain, “bahkan sesungguhnya itu adalah dosa besar.”
- حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ، عَنْ عُيَيْنَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِثْلُ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ»
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayah, dari Uyainah bin Abdirrahman, dari ayahnya, dari Abi Bakrah, telah berkata: telah bersabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam: “Tidak ada dosa yang Allah cepatkan adzabnya kepada pelakunya di dunia ini dan Allah juga akan mengadzabnya di akhirat yang pertama adalah berlaku zhalim, kedua memutuskan silaturahmi.”(HR. Abu Daud)
Takhrij Hadis
1.       
Faedah Hadis
1.      Memutuskan silaturahmi merupakan makna metaphoric dari menjauhkan kebaikan
2.      Menumpahkan darah dan memutuskan tali silaturahmi adalalah kebiasaan orang jahiliyyah
Dosa Riba
ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ بَالَوَيْهِ قَالَا: أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ غَالِبٍ، ثنا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، ثنا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ، ثنا شُعْبَةُ، عَنْ زَيْدٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الرِّبَا ثَلَاثَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا، أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ، وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ"
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ishaq, dan Abu Bakar bin Balawaih telah berkata mereka berdua: telah memberitakan Muhammad bin Ghalib, telah menceritakan kepada kami Amr bin Ali, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adi, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Zid, dari Ibrahim, dari Masruq, dari Abdillah, dari Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda: Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinahi ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila ia melanggar kehormatan saudaranya.”(HR. Al-Hakim) hadits ini shahih, berdasarkan syarat bukhari dan Muslim tapi mereka tidak mengeluarkannya)
Takhrij Hadis
1.      Al-mustadrak al-hakim hadis no 2259 bab waamma haditu Abi Hurairah
2.      Sunan Ibnu Majah hadis no 2275 Bab at-taghlid fi riba
Faedah hadis
1.      riba adalah kelebihan dalam pokok harta
2.      setiap pinjama yang mendatangkan keuntungan adalah riba
3.      Para ulama sepakat hukum riba adalah haram
4.      Anas berkata, “Rasulullah berpidato kepada kami dan beliau meneybut riba dan betapa besar perkaranya. Beliau mengatakan, ‘dirham yang didapatkan seseorang melalui cara riba lebih besar (dosanya) daripada (dosa) tiga puluh enam perempuan pezina dalam islam.” Hadis ini lemah menurut al-Mundzir
5.      Pelaku riba akan bangkit dari kubur dengan cara bangun dan terjatuh lagi disebabkan perut mereka bergolak hingga terasa berat bagi mereka untuk bangun pada hari kiamat, seperti orang yang kemasukan setan, , sebagaimana dalam QS al-Baqarah: 275
6.      Kelancangngan dalam melanggar kehormatan saudara muslim termasuk pintu riba terbesar
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، حَدَّثَنَا سِمَاكٌ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُؤْكِلَهُ وَشَاهِدَهُ وَكَاتِبَهُ»
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Simak, telah menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Abdillah bin Masud, dari ayahnya, telah berkata: Rasulullah telah melaknat pemakan riba (renternir) orang yang memberikan/membayar riba (nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Dan beliau juga bersabda, mereka itu sama dalam hal dosanya.” (HR. Abu Daud)
 أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدِانَ، أنا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ بْنِ جَابِرٍ، ثنا يَحْيَى عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَيَّاشٍ، عَنْ حُسَيْنِ بْنِ قَيْسٍ الرَّحَبِيِّ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " دِرْهَمُ رَبًا أَشَدُّ عَلَى اللهِ مِنْ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ زَنْيَةً " وَقَالَ: " مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ " " وَرُوِي فِي الرِّبَا مِنْ وَجْهٍ آخَرَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ "
Telah menkhabarkan kepada kami Ali bin Ahmad bin Abdan, saya Ahmad bin Ubaid, telah menceritakan kepada kami Muahammad bin Fadl bin Jabir, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ismail bin i’yas, dari Hausain bin Qias ar-Rahabi, dari Ikrimah, dari Ibnu Abas, dari Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam telah berkata: “satu dirham yang dimakan oleh seorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.(HR Ahmad dan Baihaki)
Berdusta Penuntun Dosa
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا. وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا»
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Manshur, dari Abi Wail, dari Abdillah semoga Allah meridhai kepadanya, dari Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam telah berkata: sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebajikan dan kebajikan menuntun kepada surga. Seseorang senantiasa bersikap jujur selalu waspada untuk selalu jujur hingga tercatatlah ia disisi Allah sebagi shiddiq (orang yang banyak kejujuran). Dan sesungguhnya dusta itu menutun kepada kedurhakaan dan kedurhakaan itu menutun kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berupaya untuk berdusta hingga tercatatlah ia di sisi Allah sebagai kadzab (orang yang banyak berbohong).”(HR. Bukhari)
Upaya menjauhi Dosa
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ المُثَنَّى، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنِ ابْنِ عَوْنٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو فَرْوَةَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وحَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ أَبِي فَرْوَةَ، سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ، سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي فَرْوَةَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الحَلاَلُ بَيِّنٌ، وَالحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَةٌ، فَمَنْ تَرَكَ مَا شُبِّهَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ، كَانَ لِمَا اسْتَبَانَ أَتْرَكَ، وَمَنِ اجْتَرَأَ عَلَى مَا يَشُكُّ فِيهِ مِنَ الإِثْمِ، أَوْشَكَ أَنْ يُوَاقِعَ مَا اسْتَبَانَ، وَالمَعَاصِي حِمَى اللَّهِ مَنْ يَرْتَعْ حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ»
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Adi, dari Ibnu ‘Awn, dari asy-Sya’biy, aku mendengar an-Nu’man bin Basyir semoga Allah meridhai kepadanya, aku mendengar Nabi Shalallahu Alaihi WA Sallam, dan telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdillah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyainah, telah menceritkan kepada kami Abu Farwah, dari asy-Sya’bi, telah berkata: aku mendengar a-Nu’man bin Basyir, telah berkata: aku mendengar Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam, dan telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad telah menceritkan pada kami Ibnu Uyainah dari Abi Farwah, aku mendengar asy-Sya’bi, aku mendengar Nu’man bin Basyir semoga Allah meridhai keduanya, dari Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir, telah mengkhabarkan kepada kami Sufyan, dari Abi Farwah, dari asy-Sya’bi, dari Nu’man bin Basyir semoga Allah meridhai kepadanya, telah berkata:telah bersabda Nabi shalallahu Alaihi Wa Sallam: (yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Diantara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat. Sehingga siapa saja yang meninggalkan dosa yang menurutnya masih samar, niscaya dia akan lebih dapat meninggalkan dosa yang sudah jelas. Dan siapa saja yang memberanikan diri pada dosa yang masih diragukan, dikhawatiran ia akan terjatuh pada dosa yang sudah jelas. Dan maksiat-maksiat itu adalah daerah larangan Allah, siapa saja yang menggembala di daerah larangan, dikhawatirkan ia akan masuk kedalamnya.”(HR. Bukhari)
Kemaksuman Rasulullah
- حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: «مَا خُيِّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَأْثَمْ، فَإِذَا كَانَ الإِثْمُ كَانَ أَبْعَدَهُمَا مِنْهُ، وَاللَّهِ مَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ قَطُّ، حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ، فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ»
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, telah menceritakna kepada kami Laits, dari Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Aisyah semoga Allah meridahi kepadanya, telah berkata: “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam tidak pernah diberi tawaran untuk memilih dua perkara, melainkan beliau memilih yang paling ringan selama tidak mengandung dosa, namun jika mengandung dosa, beliau adalah orang yang paling jauh darinya. Demi Allah beliau tidak pernah marah karena kepentingan pribadi, dan jika kehormatan Allah dilanggar beliau marah karenanya.” (HR. Bukhari)
Jariyyah Dosa
(2674) حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، وَابْنُ حُجْرٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ، عَنِ الْعَلَاءِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا»
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayub, dan Qutaibah bin Sa’id, dan Ibnu Hujr mereka telah berkata: telah menceritakan kepada kami Ismail Ya’nu Ibnu Ja’far , dari-al-Ala, dari ayahnya, dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, telah bersabda: “orang yang mengajak kepada petunjuk , keadaan ia mempunyai pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tidak berrkurang hal itu dari pahala mereka sedikitpun, dan orang yang mengajak kepada kesesatan, keadaan ia berdosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak berkurang hal itu dari dosa-dosa mereka sedikitpun.”(HR.Muslim)
Dosa kepada orang mati
1617حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَمْعَةَ، عَنْ أُمِّهِ، عَنْ أَمِّ سَلَمَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِ عَظْمِ الْحَيِّ فِي الْإِثْمِ»
telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ma’mar telah berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakar telah berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ziyad telah berkata: telah mengkahbarkan kepadaku Bu Ubaidah bin Abdillah bin zamah, dari ibnya, daribibi Salamh, dari Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam: “Dosa memecahkan tulang mayit sama dengan dosa memecahkan tulang orang hidup” (HR. Ibnu Majah)
Tahajud Penangkal Dosa
3549حَدَّثَنَا بِذَلِكَ القَاسِمُ بْنُ دِينَارٍ الكُوفِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ الكُوفِيُّ، عَنْ إِسْرَائِيلَ، بِهَذَا. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، قَالَ: حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خُنَيْسٍ، عَنْ مُحَمَّدٍ القُرَشِيِّ، عَنْ رَبِيعَةَ بِنِ يَزِيدَ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الخَوْلاَنِيِّ، عَنْ بِلاَلٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللهِ،  وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ، وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الجَسَدِ.
Telah menceritakan dengan hal itu al-Qasim bin Dinar al-Kufi telah berkata telah menceritakan Ishaq bin Manshur al-Kufi dari Israil, dengan ini. telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani, telah berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nadhor,telah berkata: telah menceritakan kepada kami Bakar bin Hunais, dari Muhammad al-Quraisy, dari Rabiah bin Yazid, dari Abi Idris al-Khoulani, dari Bilal, bahwa Rasulullah shalallahu Alaihi Wa Sallam telah berkata: hendaknya kalina melakukan shlat malam, karena shalat malam adalah hidangan orang-orang shalih sebelum kalian, dan sesungguhnya mendirikan shalat malam adalah berqurban kepada Allah, mencegah dari dosa dan menghapus kesalahan, dan menolak peyakit dari badan.” (HR. at-Tirmidzi)
Penghapus Dosa
233حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ، كُلُّهُمْ عَنْ إِسْمَاعِيلَ، قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ مَوْلَى الْحُرَقَةِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الصَّلَاةُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ، مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ»

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub, dan Quataibah bin Said, dan Ali bin Hujr, semuanya dari Ismail, Ibnu Ayyub berkata, telah menceritakan kepada kami Ismail bi Jafar telah mengabarkan kepada ku al-Ala bin Abdirrahman bin Yaqub mantan buadak al-Huraqah, daribapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shalallahu Alahi Wa Sallam bersabda: “shalat lima waktu dan shalat jumat ke jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa antaranya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim)
Penebus Dosa/ kafarat; Orang yang berbuat dzalim pada hamba sahaya
وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَابْنُ بَشَّارٍ، وَاللَّفْظُ لِابْنِ الْمُثَنَّى، قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ فِرَاسٍ، قَالَ: سَمِعْتُ ذَكْوَانَ، يُحَدِّثُ عَنْ زَاذَانَ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، دَعَا بِغُلَامٍ لَهُ فَرَأَى بِظَهْرِهِ أَثَرًا، فَقَالَ لَهُ: أَوْجَعْتُكَ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَأَنْتَ عَتِيقٌ، قَالَ: ثُمَّ أَخَذَ شَيْئًا مِنَ الْأَرْضِ، فَقَالَ: مَا لِي فِيهِ مِنَ الْأَجْرِ مَا يَزِنُ هَذَا، إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ ضَرَبَ غُلَامًا لَهُ حَدًّا لَمْ يَأْتِهِ، أَوْ لَطَمَهُ، فَإِنَّ كَفَّارَتَهُ أَنْ يُعْتِقَهُ»،
telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna, dan Ibnu Basyar dan lafadnya menurut Ibnu al-Mutsanna telah berkata keduanya: telah menceritakan kepada kami Muhammad bi Ja’far, telah menceritkan kepada kami Syu’bah, dari Firos, telahberkata: aku mendengar Dzakwan, diceritakan dari Zadan, bahwa sanya Ibnu Umar pernah memamnggil seorang budak miliknya, lalu dia melihat ada bekas pukulan dipunggunya, lantas dia bertanya kepada budaknya, ‘apakah aku telah menyakitimu?’ dia menjawab, ‘Tidak’. Ibnu Umar berkata, ‘ekarang kamu telah merdeka’ Zadzan melanjutkan, ‘kemudian dia mengambil sesuatu dari atas tanah sambil berkata, ‘dalam hal ini tidaklah aku mendpat pahala lebih dari ini, karena aku pernah menderngar RAsulullah shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: ‘Barangsiapa memukul budak yang baginya sanksi namun ia tidak melakukannya atau memukulnya  maka kafaratnya adalah memerdekakanya.’” (HR. Muslim)
Penebus Dosa; Orang Yang Bersumpah dengan selain Allah
حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ، أَخْبَرَنَا أَبُو المُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا الأَوْزَاعِيُّ، حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ حَلَفَ مِنْكُمْ، فَقَالَ فِي حَلِفِهِ: بِاللَّاتِ وَالعُزَّى، فَلْيَقُلْ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبهِ: تَعَالَ أُقَامِرْكَ، فَلْيَتَصَدَّقْ "
Telah menceritakan kepadaku Ishaq, telah mengkhabarkan kepadakami Abu al-Mughirah, telah menceritakan kepada kami al-Auzaai’, telah menceritakan kepada kami az-Zuhri dari Humaid, dai Abi Hurairah telah berkata: telah bersabda Rasulullah Shalallahu Alihi Wa Sallam: “barangsiapa diantara kalian yang bersumpah, maka berkatalah denga sumpahnya: Demi Laata wal-Uzza, hendaknya Ia mengucapkan Laa Ilaaha Illallah.”(HR. Bukhari)
Penebus Dosa; Orang yang Mencuri


Pelaku Dosa Besar boleh jadi Imam
حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، وَهَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ، قَالَا: أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ أَبِي صَخْرٍ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ إِسْحَاقَ مَوْلَى زَائِدَةَ، حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: «الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ»
Telah menceritakan kepadaku Abu a-t-Thahir dan Harun bin said al-Aliiy, telah berkata keduanya: telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahbin, dari Abi Sahrin, bahwasanya Umar bin Ishaq mantak budak zaidah, telah menceritakan kepadanya dari ayahnya, dari Abi Hurairah, bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam keadaan ia telah berkata: “ shalat lima waktu, dan shalat jumat ke jumat berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, adalh penghapus untuk dosa antara keduanya apabila dia menjauhi dosa besar.”(HR Mulism)
594حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ وَاجِبَةٌ خَلْفَ كُلِّ مُسْلِمٍ بَرًّا كَانَ أَوْ فَاجِرًا وَإِنْ عَمِلَ الْكَبَائِرَ»
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab, telah menceritakan kepadaku Muawiyah bin Shalih, dari al-Ilai bin Harits, dari Makhul, dari Ab Hurairah, telaah berkata: telah bersabda Nabi Shalallahu Alihi Wa Sallam: “shalat yang telah ditetapkan (shalat fardhu)wajib dilakukan di belakang setiap muslim, baik dia orang baik ataupun orang jahat, meskipun dia melakukan dosa besar.”(HR abu Daud)
2533حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْجِهَادُ وَاجِبٌ عَلَيْكُمْ مَعَ كُلِّ أَمِيرٍ، بَرًّا كَانَ أَوْ فَاجِرًا، وَالصَّلَاةُ وَاجِبَةٌ عَلَيْكُمْ خَلْفَ كُلِّ مُسْلِمٍ بَرًّا كَانَ أَوْ فَاجِرًا، وَإِنْ عَمِلَ الْكَبَائِرَ، وَالصَّلَاةُ وَاجِبَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ بَرًّا كَانَ أَوْ فَاجِرًا، وَإِنْ عَمِلَ الْكَبَائِرَ»
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab, telah menceritakan kepadaku Muawiyah bin Shalih, dari al-Ila bin al-Harits, dari Mahkul, dari Abi Hurairah telah berkata: telah bersabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam “berjihad adalah wajib atas kalian bersama seluruh pemimpin yang baik maupun yang jahat. Shalat adalah wajib atas kalian dibelakang setiap muslim, yang baik maupun jahat dan walaupun ia telah melakukan dosa besar. Dan shalat adalah wajib atas setiap muslim yang baik maupun yang jahat, walaupun ia telah melakukan dosa-dosa besar.”(HR. Abu Daud)
Syafaat Rasul
4739حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا بَسْطَامُ بْنُ حُرَيْثٍ، عَنْ أَشْعَثَ الْحُدَّانِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي»
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harab, telah menceritakan kepada kami Bastam bin Huraits, dari Asyats al-Hudani, dari Anas bin Malik, dari Nabi shalallahu Alaihi Wa Sallam: “syafaatku berlaku untuk pelaku dosa besar dari umatku.”(HR. Abu Daud)
Untitled
(996) حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجَرْمِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبْجَرَ الْكِنَانِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ، عَنْ خَيْثَمَةَ، قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا مَعَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، إِذْ جَاءَهُ قَهْرَمَانٌ لَهُ فَدَخَلَ، فَقَالَ: أَعْطَيْتَ الرَّقِيقَ قُوتَهُمْ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَانْطَلِقْ فَأَعْطِهِمْ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ، عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ»
Telah menceritkan kepada kami Said bin Muhammad al-Jaramiyyu, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abdul Malik bin bin Abjar al-Kinani, dari ayahnya, dari Thalhah bin Musharif, dari Khaitsamah, telah berkata: keadaan kami sedang dududk bersama Abdullah bin Amr, tiba-tiba dating bendaharanya, lalu masuk dan Abdullah  pun bertanya padanya, ‘Apakah kamu telah memberikan makan para hamba sahaya?’sang bendahara menjawab, ‘belum tuanku.’ Adullah berkata, ‘pergi, dan berilah makan mereka segera. Kemudian Ibnu Umar berkata; Rsulullah Sgalallahu Alahi Wa Sallam bersabda: “Cukuplah dosa seseorang yang menahan makanannya yang dimilkinya
Tidak ada Penebus Dosa ; Orang yang Berbuka tanpa Udzur
-1672حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَعَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ، عَنِ ابْنِ الْمُطَوِّسِ، عَنْ أَبِيهِ الْمُطَوِّسِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ، لَمْ يُجْزِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ»
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bi Abi Syaibah , dan Ali bin Muhammad, telah behrkata keduanya: telah mencerikan kepada kami Waqi’, dati Sufyan, dari habib bin Abi Tsazbit, dari ibnu al-Muthawwasi, dari ayahanya al-Muthawwasi, dari Abi Hurairah, telah berkata, telah bersabda Rasulullah shalallahu Alaihi Wa Sallam: “barangsiapa bebrbuka satu hari di Bulan Ramadhan tanpa udzur yang dibolehkan, maka hal itu tidak dapat diganti meskipun puasa satu tahun.”(HR. Ibnu Majah)
Dosa Zina
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ وَاصِلٍ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُرَحْبِيلَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ، قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ، قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: أَنْ تَزْنِيَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ.
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, telah berkata: telah menceritakan kepada kami abdurrahaman bin Mahdiz, telah berkata, telah menceritkana kami Sufyan dari Washil, dari Abi Wail, dari Amr bin Syurahbil, dari Abdillah, telah berkata: “aku bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, ‘Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah Ta’ala? Beliau menjawab, ‘Jika kamu menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang mencipatakanmu,’ aku bertanya lagi, ‘Sungguh itu memamng dosa besar, lalu apalagi?’ beliau menjawab ‘jika kamu membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu’ aku bertanya, ‘lalu apalagi? Beliau menjawab, jika kamu berzina dengan istri tetanggamu.” (Hr. Tirmidzi)
Dosa Menuduh Zina
دَّثَنَا عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ المَدَنِيِّ، عَنْ أَبِي الغَيْثِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: «الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلاَتِ»
Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah, telah berkata: telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Bilal, dari Tszur bin Zid al-Madani, dari Abi al-Ghaits, dari Abi Hurairah: semoda Allah meridhai kepadanya, dari Nabi shalallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda: “jauhilah oleh kalian tujuh  perkara yang membinasakan,’ mereka bertanya ‘apa saja itu wahai Rasulullah’ Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam menjawab, ‘syrik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang telah diharamkan Allah kecuali denga dasar yang benar, memakan riba, memakan harata anak yatim, berlari disaat perang, dan menuduh (zinah) terhadap wanita-wanita suci, tidak tahu menahu dan mereka beriman.”(HR. Bukhari)
Tiga Orang yang Tidak Akan Disucikan dari Dosa
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَابْنُ بَشَّارٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ مُدْرِكٍ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ، عَنْ خَرَشَةَ بْنِ الْحُرِّ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ» قَالَ: فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَ مِرَارًا، قَالَ أَبُو ذَرٍّ: خَابُوا وَخَسِرُوا، مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الْمُسْبِلُ، وَالْمَنَّانُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ»
Telah menceritakan kepada kamiAbu Bakar bin Abi Sayaibah, dan Muhammad bin al-Mutsanna, dan Ibnu Basyar, mereka telah berkata: telah menceritakan kepada kami  Muhammad bin Jafar, dari Syu’bah, dari Ali bin Mudrik, dari Abi Zur’ah,dari khorosyah bin Al-Hurri, dari Abi Dzar, dari Nabi shalallahu Alaihi Wa Sallam telah berkata: “Ada tiga orang yang Allah  tidak akan ajak bicara pada  hari kiamat, tidak mensucikan dosanya dan bagi mereka siksa yang pedih’ Dzar berkata lagi, “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam membacanyan tiga kali. Abu Dzar berkata, mereka gagal dan rugi, siapakah mereka wahai Rasulullah?’ beliau menjawab, ‘musbil, orang yang suka memberi dengan menyebut-nyebutkannya (kerena riya) , dan orang yang membuat laku barang dagangan dengan sumpah palsu.”(HR.Muslim)
Dosa Meniru Gaya Lawan Jenis
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ الْبَاهِلِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «لَعَنَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَلَعَنَ الْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ»
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Khalad al-Bahili telah berkata: telah menceritakan kepadakami Khalid al-HArits telah berkata: telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abas bahwasanya Nabi Shalallahu Alahi Wa Sallam: Allah melaknat para wanita yang menyerupai laki-laki dan para laki-laki yang menyerupai wanita.(HR. Ibnu Majah)
Dosa mempermaihkan Pernikahan
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، حَدَّثَنِي إِسْمَاعِيلُ، عَنْ عَامِرٍ، عَنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ إِسْمَاعِيلُ: وَأُرَاهُ قَدْ رَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَعَنَ اللَّهُ الْمُحَلِّلَ، وَالْمُحَلَّلَ لَهُ».
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan keapada kami Ismail, dari Amir, dari al-Haris, dari Ali RA telah berkata Ismail: dan telah meriwayatkannya telah mearfukan kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam sesungguhnya Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda: “Allah melakanat Muahallil dan Muhalilla Lahu”(HR Abu Daud)
Dosa karena Ilmu
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ: أَنْبَأَنَا وَهْبُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْأَسَدِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَيُجَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، وَيَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ جَهَنَّمَ»
Telah menceritakan kepada kami Muahammadi bin Ismail telah berkata: telah meberitakan kepada kami Wahab bin Ismail al-Asadi telah berkata: telah menceritakan kepada kmai Abdullah bin Said al-Maqburi, dari kakeknya, dari Abi Hurairaj: telah berkata: telah bersabda Nabi Shalallahu Alahi Wa Sallam: “Barangsiapa mempelajari ilmu untuk mengbanggakan diri dihadapan para ulama, mendebat orang-orang bodoh serta memalingkan perhatian manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke neraka jahannam.”(HR. Ibnu Majah)
Dosa Orang Khianat
أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحِ الْبَزَّارُ، حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، [ص:423] عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ فِي الْخُطْبَةِ:  «لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ».
Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ya’la, telah enceritakan kepada kami al-Hasan bin ash-Sahabah al-Bazzaru, telah menceritakan kepada kami Muawwal bin Ismail, dari Hammad bin Salam, dari Tsabit dari Anas bin Malik, telah berkata: Nabi shalallahu Alaihi Wa Sallam telah berkhutbah kepada kami maka amanahdan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.”9HR. Ibnu Majah)
Dosa Orang Yang Dzalim
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ سَعِيدٍ المَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ»
Telah menceritakan kepada kami Ismail, telah berkata: telah menceritakan kepada ku Malik, dari Said al-Maqburi, dari Abi Hurairah: bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam telah bersebada: “barangsiapa yang memilki kedzaliman terhadap saudaranya, hendaknya ia meminta dihalalkan, sebab dinar dan dirham (dihari kiamat) tidak bermanfaat, kezaliamnnya harus dibalas dengan cara kebaikannya diberikan kepada saudaranya, jika ia tidak mempunyai kebaikan lagi, kehjahatan kawannya diambil dan dipikulkan kepadanya.”(HR. Bukhari)
Dosa Menkomsumsi Harta Haram
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو الأَسْوَدِ، عَنِ ابْنِ أَبِي عَيَّاشٍ وَاسْمُهُ نُعْمَانُ عَنْ خَوْلَةَ الأَنْصَارِيَّةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «إِنَّ رِجَالًا يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ القِيَامَةِ»
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid, telah menceritakan kepada kami Said bin Abi Ayub, telah berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Al-Aswad, dari Ibnu Abi Ayyas dan anamnya Nu’man daei Khaulah al-Anshari semoga Allah meridhai keduanya, telah berkata: aku mendengar Nabi Shalallahu Alahi Wa Sallam mereka berkata: “sesungguhnya banyak orang yang asyik terhadap harta Allah dengan cara yang tidak benar, maka bagi mereka adalah neraka pada hari kiamat.”( HR. Bukhari)
Dosa hakim yang Jahat
أَخْبَرَنَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ دُحَيْمٍ الشَّيْبَانِيُّ، بِالْكُوفَةِ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَازِمٍ الْغِفَارِيُّ، ثَنَا أَبُو غَسَّانَ، وَعَلِيُّ بْنُ حَكِيمٍ، ثَنَا شَرِيكٌ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ، عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَاضِيَانِ فِي النَّارِ وَقَاضٍ فِي الْجَنَّةِ. قَاضٍ قَضَى بِالْحَقِّ فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ، وَقَاضٍ قَضَى بِجَوْرٍ فَهُوَ فِي النَّارِ، وَقَاضٍ قَضَى بِجَهْلِهِ فَهُوَ فِي النَّارِ» قَالُوا: فَمَا ذَنْبُ هَذَا الَّذِي يَجْهَلُ قَالَ: «ذَنْبُهُ أَنْ لَا يَكُونَ قَاضِيًا حَتَّى يَعْلَمَ»
Telah mengkhabarkan kepada kami berita, Mauhammad bin Ali bin Duhaim a-Syaibaani, di Kuffah, telah mengkhbarkan kepada kamiAhmad bin HAzim al-Ghfariyu, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Gahassan, dan Ali bin Hakim, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari al-A’masy, dari Said bin uabidah dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya Raduyallahu Anhu telah berkata: telah bersabda Rasulullah shalallahu alaihi Wa Salla: “dua orang hakim dineraka dan seorang hakim disurga, seorang hakim yang menetapkan dengan kebenaran aka dia berada di surge, dan hakim yang metapakan dengan aniyaya maka dia berada di neraka, dan hakim yang menetapkan dengan kebodohan maka disa berada di neraka) mereka bertanya maka apa dosa …..